Geng Sekolah: Struktur Senioritas yang Tak Pernah Mati di SMAN 48

Admin/ April 22, 2026/ Berita

Di balik prestasi akademik yang membanggakan, masalah Geng Sekolah masih menjadi isu laten yang menghantui lingkungan pendidikan menengah di Jakarta, termasuk di sekolah-sekolah ternama seperti SMAN 48. Fenomena ini bukan sekadar sekumpulan siswa yang hobi nongkrong, melainkan sebuah organisasi informal yang memiliki struktur senioritas sangat kuat dan turun-temurun. Keberadaan geng ini sering kali menjadi pemicu tindakan perundungan (bullying) dan tawuran antar pelajar, karena adanya budaya “penataran” dari senior kepada junior sebagai syarat untuk mendapatkan pengakuan atau perlindungan di lingkungan sekolah.

Struktur di dalam Geng Sekolah biasanya sangat tertata, mulai dari penentuan pemimpin yang disebut “big boss” hingga pembagian peran bagi anggota baru. Senioritas menjadi hukum tertinggi, di mana junior diwajibkan untuk mematuhi segala perintah senior, mulai dari hal sepele hingga tindakan melanggar hukum seperti memalak atau terlibat dalam konflik fisik dengan sekolah lain. Tradisi ini sulit diputus karena adanya rasa solidaritas semu yang ditanamkan sejak dini. Siswa yang menolak bergabung sering kali mendapatkan pengucilan sosial atau bahkan kekerasan fisik, sehingga banyak yang terpaksa masuk ke dalam lingkaran setan ini demi keamanan diri.

Masalah Geng Sekolah semakin kompleks dengan adanya campur tangan alumni yang masih merasa memiliki kendali atas adik kelas mereka. Alumni sering kali menjadi fasilitator tempat berkumpul di luar sekolah (basecamp) dan penghasut terjadinya konflik dengan sekolah lawan. Hal ini membuat upaya sekolah untuk membubarkan geng menjadi sangat sulit karena pengaruhnya meluas hingga ke luar pagar institusi. Pihak sekolah sering kali kecolongan karena aktivitas geng dilakukan dengan sangat rapi dan menggunakan kode-kode tertentu yang hanya dipahami oleh kelompok mereka di media sosial.

Pihak SMAN 48 dan dinas pendidikan telah mencoba berbagai langkah untuk meredam pengaruh Geng Sekolah, mulai dari penegakan disiplin yang ketat hingga penguatan kegiatan ekstrakurikuler yang positif. Namun, pendekatan represif saja tidak cukup jika akar budayanya tidak dibenahi. Dibutuhkan ruang dialog yang terbuka antara guru, siswa, dan orang tua untuk membangun budaya sekolah yang lebih inklusif dan egaliter tanpa ada sekat senioritas yang menindas. Pendidikan karakter harus menjadi inti dari proses belajar mengajar agar siswa memiliki keberanian untuk menolak budaya kekerasan yang sering kali dibungkus dengan alasan persaudaraan.

Share this Post